Biografi Tuanku Imam Bonjol, Pimpinan Tertinggi Perang Padri

Biografi Tuanku Imam Bonjol – Tuanku Imam Bonjol adalah pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Barat.

Tuanku Imam Bonjol terkenal sebagai pemimpin perang Padri melawan Belanda pada abad ke-19.

Pada tahun 1820, Tuanku Imam Bonjol di tunjuk sebagai pimpinan tertinggi perang Padri.

Perjuangannya dalam memimpin masyarakat Minangkabau harus terhenti pada 1837 karena ditipu oleh Belanda.

Akibat siasat licik Belanda, Tuanku Imam Bonjol hidup di pengasingan hingga akhir hayatnya.

Berikut ini biografi singkat Tuanku Imam Bonjol.

Baca juga: Sekolah Rakyat, Sekolat Unggulan, dan Sekolah Negeri yang Terancam Tutup

Asal-usul Tuanku Imam Bonjol

Sumber-sumber mengenai Tuanku Imam Bonjol berasal dari tambo, keterangan keluarga, dan para penulis Belanda.

Dari tambo diketahui bahwa Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada tahun 1772.

Nama asli Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Syahab. Ia merupakan putra dari Khatib Rajamuddin atau Bayanuddin Syahab dan Hamatun.

Ayahnya adalah seorang guru agama yang berasal dari Sungai Rimbang, sekarang Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sedangkan ibunya berasal dari Maroko.

Pengaruh keagamaan ayahnya telah melekat sejak kecil dan terus berkembang hingga Tuanku Imam Bonjol dewasa dan menjadi seorang pemimpin.

Pendidikan Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol di tempa dengan bermacam-macam ilmu pengetahuan yang menjadi modal utamanya sewaktu menjadi pemimpin perang Padri.

Pendidikan Tuanku Imam Bonjol di mulai dari ayahnya, khususnya dalam ilmu agama Islam.

Saat usia Imam Bonjol tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Setelah itu, ia di asuh oleh sang nenek, yang juga mengajarinya agama islam lebih dalam.

Sebelum di kenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol,

Muhammad Syahab mempunyai beberapa gelar atau nama panggilan, seperti Peto Syarif dan Malim Basa.

Sewaktu di asuh neneknya, Muhammad Syahab lebih di kenal sebagai Peto Syarif.

Di samping belajar agama Islam, ia juga mempelajari mengenai pandai besi, pertambangan, silat, dan pengetahuan umum lainnya yang harus di kuasai oleh seorang pemuda Minangkabau.

Peto Syarif, yang memiliki keinginan belajar yang tinggi, merantau ke beberapa daerah dan ke beberapa ulama, salah satunya Tuanku Koto Tuo.

Karena kepandaiannya, Peto Syarif yang saat itu sudah berusia 20 tahun, di angkat oleh Tuanku Koto Tuo menjadi asistennya sekaligus guru bantu.

Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

Pada tahun 1803, Malim Basa pergi ke Kamang, Sumatera Barat, dan berguru kepada Tuanku Nan Renceh.

Dari Tuanku Nan Renceh, Malim Basa lebih banyak belajar tentang ilmu perang, yang di perlukan untuk pemurnian ajaran agama Islam.

Tuanku Nan Renceh sangat tegas melawan perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam, dan oleh karena itu terlibat konflik dengan Kaum Adat dalam Perang Padri.

Pada awal Perang Padri, Kaum Padri berperang melawan Kaum Adat di bawah pimpinan Harimau Nan Salapan.

Harimau Nan Salapan adalah sebutan untuk delapan ulama pemimpin Perang Padri, yang salah satunya Tuanku Nan Renceh.

Di era perang saudara antara Harimau Nan Salapan dan kaum adat, Malim Basa belum berpartisipasi aktif dalam perang Padri.

Partisipasi Malim Basa dalam Perang Padri di mulai saat Tuanku Nan Renceh menunjuknya sebagai imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol.

Ia juga di tugaskan membangun sebuah benteng di Bukit Tajadi, yang di beri nama Benteng Bonjol.

Sejak peristiwa itulah, nama Tuanku Imam Bonjol lebih populer daripada nama asli maupun gelarnya.

Kedudukan seorang imam di waktu gerakan Paderi adalah sebagai kepala pemerintahan nagari dalam bidang ibadah Islam.

Bersama-sama dengan Kadhi, ia memimpin pemerintahan nagari dalam pelaksanaan ibadah dan hukum Islam menurut Al-Quran dan hadis Nabi.

Tuanku Imam Bonjol merupakan imam dalam berbagai segi kehidupan, misalnya imam yang cerdas dalam berpikir, imam dalam berpidato, dan imam dalam peradilan silang sengketa, sehingga sangat di hormati dan di muliakan orang Minangkabau.